Selasa, 08 Maret 2016 |

Derita Jomblo, Kifarat Dosa


Jomblo adalah ujian. Punya pacar (pacaran) adalah musibah. Punya pasangan yang halal (menikah) adalah rahmat.

Allah swt berfirman dalam Surah Ali-Imran ayat 14-17 :
Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak dan sawah ladang.Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Katakanlah,“Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) disisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdoa “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(Juga) orang-orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang meninfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.”

Cinta adalah ujian yang menarik bagi setiap hamba dengan kondisinya yang berbeda-beda tapi lebih banyak yang di uji dengan cinta ini adalah yang belum menikah.
Cinta telah menjadi berhala yang paling besar di masyarakat kita saat ini sampai-sampai jadi sesembahan dengan dalih “atas nama cinta”. Buktinya telah banyak orang bunuh diri atas nama cinta, mengkhianati perjanjian atas nama cinta, sampai melakukan dosa-dosa besar atas nama cinta. Nau'dzubillah.

Beberapa hal yang perlu diketahui oleh para jomblo :
1. Berbahagialah kalian jika kalian adalah jomblo karena Allah memberi pahala tergantung tingkat kesulitannya dalam beramal. Maka ketika saat ini anak muda banyak ujian atau godaan untuk main ke mall, jalan-jalan (hang out) misalnya, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya, maka pahala yang besarlah untuk anak muda yang memilih menghabiskan masa muda nya untuk berkumpul dengan halaqah dakwah, duduk-duduk di majelis ilmu, sementara pada masa itu banyak pemuda lain menghabiskan waktu dengan pacarnya. Dan Rasulullah pun pernah mengungkapkan bahwa anak muda yang datang ke mesjid lebih dicintai Allah daripada orang tua yang datang ke mesjid.

2. “Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt termasuk dalam salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, ketika begitu panasnya hari itu dan tak ada satu orang pun yang dapat selamat kecuali dengan naungan-Nya. Kemudian urutan kelima dalam golongan tersebut juga ditujukan bagi “seseorang yang digoda oleh wanita yang kaya dan cantik tapi menolak ajakannya karena takut kepada Allah.

3. Dalam sebuah hadits diungkapkan bahwa “ibadah yang paling baik adalah menunggu kelapangan di masa-masa yang sulit”. Jadi menunggu hadir nya jodoh adalah ibadah yang afdhol, karena menunggu dengan sabar hadirnya kekasih dunia akhirat maka penantiannya adalah ibadah setip hari. Hal ini berlaku semenjak seseorang itu terpikir ingin menikah sampai tiba datangnya jodoh, maka setiap detiknya dapat dikatakan ibadah.

4. Termasuk tiga tipe manusia yang pasti ditolong Allah, yaitu mujahid fii sabilillah (yg berjihad di jalan Allah), yang menikah karena menghindari zina, dan yang menjaga iffah.


Maka pesan terakhir untuk para jomblo sesuai dengan qur’an surah An-Nur ayat 33 : “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya....” 


Minggu, 06 Maret 2016 |

Menulislah, Agar Dicintai Allah...

 “Whats your hobby?... Why do you like it?...”

Ketika diajukan pertanyaan di atas maka aku katakan bahwa hobi ku adalah menulis, meski hanya sekedar penulis diary amatiran, namun dengan menulis aku bisa membebaskan beban-beban hatiku di kala gundah gulana ataupun sebagai pengungkap rasa suka citaku. Dengan kata lain menulis adalah salah satu caraku mencurahkan isi hati juga pikiran, dan dengan menulis aku pun dapat berbagi ilmu dan hikmah kepada banyak orang, membimbing dan mempengaruhi pembaca untuk mau berubah ke arah yang lebih baik.

“Since when you like it?”

Semuanya berawal ketika aku kelas satu SMP saat pertama kalinya kakak memberikan aku hadiah sebuah buku kumpulan cerpen remaja, maka saat itu seolah pertama kalinya aku mengenal dunia luar lewat tulisan. Sehingga muncullah hasratku untuk menjadi penulis. Namun seiring berjalannya waktu, hobi dan cita-citaku itu mulai kendor akibat kurangnya ilmu, kurangnya motivasi dan hadirnya amanah-amanah lain, diantaranya amanah organisasi juga amanah sebagai santri dan mahasiswa.

Maka alhamdulillah semenjak hadirnya #30DWC ini cita-citaku untuk jadi penulis seolah membara kembali dan aku sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa belajar dan mengenal orang-orang hebat di sini.

Selain itu hadir pula motivasi baru agar aku lebih bersungguh-sungguh dalam menulis, di antaranya : “Menulis untuk perbaikan Indonesia”, itulah yang aku tekadkan setelah aku membaca pengantar buku “AYAH” beberapa waktu yang lalu, buku itu merupakan rangkaian cerita kehidupan almarhum Hamka dalam pandangan sang anak.

Dari buku itu barulah aku tahu bahwa dari sejak dulu sampai sekarang yang jadi buruan para penjajah atau musuh-musuh keadilan itu adalah penulis. Penulis bisa menjadi penentu kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, penulis bisa merubah pikiran seseorang bahkan pemikiran suatu bangsa, dan itu yang dulu ditakutkan PKI, para penjajah dan sejenisnya. Karena mereka paham betul bahwa tulisan adalah cat halus untuk membentuk suatu ideologis. Maka aku ingin menjadi penulis yang bisa menebarkan nilai-nilai islam dan kebaikan khususnya untuk bangsa ini.

Kemudian ketika aku ditantang untuk mengikuti #30DWC ini aku mulai merenung kembali, merenungi kemalasan-kemalasanku di masa lampau dalam menulis padahal sudah tahu jelas manfaatnya. Hingga akhirnya aku temukan tambahan motivasi baru bahwa aku HARUS MENULIS “agar dicintai Allah”. Kenapa agar dicintai Allah?...

Karena dengan tulisan kita bisa menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau bahasa lainnya berdakwah lewat tulisan. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang berjuang dijalan-Nya, meskipun hanya dengan pena?...

Maka dalam challenge ini aku akan berusaha untuk menulis hal-hal yang bisa membuat pembaca semakin dekat dengan Allah, apakah itu rangkuman ceramah, renungan diri, kisah-kisah hikmah sebagai santri atau hal-hal lain yang berkaitan dengan khazanah Islam. Dan sebuah harapan besar agar beberapa bulan ke depan dapat tercipta sebuah buku “Catatan Hati Seorang Santri” ataupun dalam judul yang berbeda namun tetap berisi kehidupan para penghafal qur’an dan orang-orang yang aku temui di pesantren.

Raga ini kelak akan mati tapi tulisan akan tetap mengabadi. Aku boleh saja akan mati, lenyap di telan bumi tapi ketika aku meninggalkan sebuah karya tulisan, namaku bisa tetap terkenang. Suatu saat semoga bisa jadi kenyataan, semoga bisa tetap istiqomah dan bisa jadi amal saleh yang menolong ku di akhirat kelak. Aamiin...


#Keep writing, always inspiring !!!

[Elfatunnisa Faridah for #30DWC hari ke-21]
Sabtu, 05 Maret 2016 |

Lamaran Sang Imam Mesjid

Mengenang kisah dua tahun yang lalu. (nama yang tercantum adalah nama samaran)

Ramadhan 1435 H.
Seorang akhwat menuturkan kisahnya padaku bahwa beliau mendapat surat dari Imam mesjid yang berada si dekat asrama baru kami. Maka setelah mendapat ijinnya saya buka surat tersebut. Yang kuingat, surat tersebut berupa dua lembar kertas putih (lose lift), halaman pertama berisi satu kata saja yaitu “Subhanallah....” lalu saya buka halaman keduanya dan tetap dengan bahasa yang sederhana sebuah ungkapan kekaguman dan selanjutnya di sana tertulis kata “Maqbul atau Mardud?” yang mana arti dari dua kata bahasa arab itu adalah “Diterima atau Ditolak?”
Ada yang lucu dibalik surat lamaran (ungkapan isi hati) sang imam tersebut, yaitu bahwa beliau tidak tahu sama sekali wajah sang akhwat yang ingin dipinangnya, yang dia tahu hanyalah namanya yaitu Aulia.

Jadi ceritanya suatu malam sebelum kami melaksanakan salat tarawih di mesjid Baitul Hidayah, sahabat saya yang bernama Aulia berkenalan dan berbincang dengan seorang Ibu yang duduk disampingnya, sahabat saya menceritakan kalau kami (santri DT) adalah warga baru di daerah ini karena asrama kami yang sedang direnovasi sehingga terpilihlah 10 orang santri untuk ikut tinggal bersama pak Kiyai di daerah tersebut.

Berhubung kami adalah santri tahfidz maka ibu itu pun menanyakan berapa juz hafalan sahabat saya tersebut, maka Aulia menjawab dengan jujur kalau hafalannya sudah sampai di juz 24 begitu juga dia diceritakan mengenai aktivitas lainnya yaitu sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan Pendidikan Bahasa Arab UPI Bandung.

Maka dari sanalah awal mula sang Imam mengetahui tentang Aulia, karena ternyata wanita yang berkenalan dengan Aulia itu adalah tantenya. Dan ibu tersebut sepertinya sangat terkesan akan Aulia mungkin karena parasnya yang cantik, tutur katanya yang lembut, juga hafalan qur’annya yang hampir selesai. Sehingga sang tante menyarankan sang imam mesjid itu untuk memberanikan diri melamar Aulia.

Dan kenapa saya yakin kalau sang Imam tidak tahu Aulia adalah karena ketika hendak menyerahkan surat itu beliau dengan malu-malu memanggil teman saya yang baru pulang dari kampus lalu berkata “maaf, boleh nitip surat ini untuk Aulia” maka teman saya hanya menjawab “baik nanti disampaikan” padahal sebenarnya orang yang dititipinya tersebut adalah Aulia itu sendiri.

(to be continue)
Jumat, 04 Maret 2016 |

Al-Hammaaduun

Bismillah, untuk #30DWC hari ke 19 ini mari kita mengulas salah satu hadist yang saya favoritkan dalam program JODOH (Just One Day One Hadits) yang sedang saya ikuti.

“Sesungguhnya hamba Allah yang paling mulia pada hari kiamat adalah “al-hammaaduun” (orang yang paling banyak mengucapkan hamdalah)”. (Hadist Shahih, riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).

Di sini saya tidak akan men-Syarah hadis di atas karena itu bukanlah maqom saya, hanya ingin mengisahkan beberapa pengalaman mengenai orang yang saya kenal dan pantas disebut “al-hammaaduun”.

Al-hammaaduun pertama, adalah ustad kami di pondok yang Allah amanahi sebagai pimpinan program tahfidz saat ini. Hari itu untuk pertama kali saya dan 5 orang santri lainnya berkesempatan untuk naik mobil ustad bersama sang istri dalam rangka menghadiri pernikahan salah seorang santri yang juga satu program dengan kami. Dan MasyaAllah... sepanjang perjalanan ustad tidak berhenti mengucap hamdalah, misalnya ketika lampu merah ataupun ketika macet terjadi, kata pertama yang beliau ucapkan selalu “Alhamdulillah...” padahal mayoritas orang pada umumnya kalau macet itu seringnya kesal atau mengeluh tapi ini sebaliknya.

Kemudian al-hammaaduun yang kedua sama dengan yang pertama yaitu orang yang Allah amanahi hafalan Qur’an dan santri. Beliau adalah pimpinan pesantren tahfidz akhwat di Krapyak Yogyakarta (pondok Hindun), saya rasa sebagian teman-teman sudah tahu siapa beliau.
Dalam Acara pernikahan putri Aa Gym yang ke-empat (teh Ghaitsa) saya berkesempatan untuk menjadi asisten beliau selama acara pernikahan tersebut. Ketika akad nikah telah selesai kami bermaksud menuju tempat resepsi namun saat akan keluar dari mesjid ternyata sandal beliau tidak ada di rak sepatu. Maka kami mencoba mencarikan namun tetap tak ketemu dan yang luar biasanya tak ada sedikit pun keluhan atau wajah kesal ketika tahu sandalnya hilang, justru beliau malah tersenyum dan berkata “tak apa biar jadi kenang-kenangan di DT” dan ketika saya tawari untuk memakai sepatu saya, atau memakai sandal mesjid, atau saya belikan sandal yang baru, beliau menolak dan berkata “gapapa teh saya masih ada cadangan di hotel” kemudian beliau memilih jalan kaki tanpa alas. Dan beliau tak ada sedikit pun merasa malu sebagai seorang yang terpandang untuk jalan kaki tanpa alas menuju hotel. Pun ketika hujan turun dan beliau baru sampai di Bandung, beliau tidak mengeluh meskipun harus kebasahan.


MasyaAllah... Dari kedua orang istimewa itu saya belajar mungkin memang begitulah seharusnya akhlak para penghafal Al-Qur’an dan semoga kedua guru saya tersebut menjadi orang-orang yang Allah muliakan di hari kiamat dan semoga kitapun bisa mengamalkannya sehingga termasuk di dalamnya.aamiin
Kamis, 03 Maret 2016 |

Teman Diskusi


Panggil saja dia Amel tubuh mungilnya tidak sebanding dengan ketinggian ilmunya, dan dia adalah teman satu jurusanku. Teringat pertama kali mengenalnya ketika ospek universitas, saat aku lihat isi cita-cita di bukunya. Saat itu aku sangat tertarik dengan semua cita-cita nya yang tertulis dalam buku MARU tersebut. Salah satu yang tertulis disana adalah “ingin kuliah ke Mesir” usut punya usut ternyata dia memang hampir melanjutkan kuliah ke Mesir bahkan telah lulus seleksi namun karena kendala restu orang tua dia urungkan niat kuliahnya tersebut. Sebenarnya bukan batal tapi lebih pas dikatakan tertunda.
Hingga akhirnya dia memutuskan memilih jurusan pendidikan bahasa Arab di kampus bumi siliwangi ini dan takdir inilah yang mempertemukan kami.

Latar belakang pesantren, dan kemampuan bahasa Arab yang baik membuatnya cukup menonjol dibanding teman-teman lain di kelasku. Maka aku pun senang jika berdiskusi atau menanyakan sesuatu padanya. Entahlah kalau ketemu dia ingin diskusi ilmu saja. Bahkan tak jarang dia terkadang menjadi jalan solusi kegundahan hatiku. Misalnya ketika aku mengikuti sebuah kajian islam yang berbeda dengan apa yang kuyakini sebelumnya, maka aku meminta sarannya apakah harus melanjutkan atau berhenti. Atau saat aku mulai jauh dari Al-Qur’an, atas ijin Allah dia memberiku kisah yang memotivasiku untuk lebih rajin tilawah. Maka beruntunglah aku bisa berteman dengannya.

Kemudian, pada semester 5 ketika aku berhenti sejenak dari perkuliahan dia pun bisa mewujudkan mimpi nya untuk ke Mesir, dengan mengikuti program “Sandwich” yaitu program beasiswa untuk dapat belajar di salah satu universitas di Mesir selama satu semester. Sebelum keberangkatannya dia berkata padaku bahwa tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bersungguh-sungguh di sana. Maka disana aku semakin kagum dengan kesungguhan dan perjuanngannya.

Setelah hampir setahun kepulangannya dari Mesir, kemarin aku dan dia terhanyut dalam sebuah diskusi ilmu. Dan salah satu yang menarik adalah tentang masa depan, yaitu mengenai cita-cita kami untuk dapat melahirkan generasi para ulama. Alhamdulillah dari diskusi kemarin aku jadi tahu seperti apa lingkungan pendidikan di Timur Tengah juga bagaimana mempersiapkan generasi-generasi pecinta Al-Qur’an. Ya... aku pun terpanggil untuk mempersiapkan kelahiran mujahid-mujahid ku kelak sejak dari sekarang, dan mengonsep pendidikan apa yang akan diberikan. Semoga apa yang kami cita-citakan dapat terwujud. aamiin

So... untuk para Muslimah mari kita persiapkan generasi yang akan datang dengan terus belajar dan memperbaiki diri, karena anak-anak kita kelak sangat tergatung dengan bagaimana kita saat ini. Selamat bercita-cita! ^^


Kasmaran


Ada sebuah ungkapan menarik dari buku yang sedang saya baca saat ini yaitu buku : Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ : Macam-Macam Penyakit Hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya sebuah buku karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Dan saya rasa ungkapan ini sangat cocok untuk para kaula muda yang sedang dilanda asmara.
  ( مَنْ عَشِقَ وَ كَتَمَ وَ عَفَّ وَ صَبَرَ؛ غَفَرَ الله لهُ و أَدْخَلَهُ الجَنَّةَ )
Barang siapa yang kasmaran (jatuh cinta) lalu menyembunyikannya, menjaga kehormatan dirinya, dan bersabar atasnya, niscaya Allah akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga
MasyaAllah, indah bukan kalimat itu dan itu adalah hadits yang di marfu’kan oleh Ibnu Abbas ra.

Betapa ungkapan itu sangat jauh berbeda dengan keadaan para remaja saat ini yang banyak mengumbar perasaannya, apakah melalui status di media sosial atau mungkin banyak curhat sana sini.

Dan ternyata kasmaran itu adalah salahsatu penyakit hati yang berbahaya bahkan dikategorikan ke dalam kekufuran jika pelakunya menjadikan apa yang dicintainya sebagai tandingan bagi Allah. Tanda kasmaran yang termasuk perbuatan syirik dan kekufuran adalah pelakunya lebih mengutamakan keridhaan orang yang dicintainya daripada keridhaan Rabbnya.
Contoh sederhana, misalnya ketika dia lebih senang berjumpa dengan pujaan hatinya daripada berjumpa dengan Rabbnya (ex: shalat).

Maka salahsatu cara untuk mengobati penyakit ini adalah dengan berusaha memahami tauhid dengan benar, wajib mengetahui sunnah-sunnah-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Kemudian harus memperbanyak ketaatan dan memohon pada-Nya untuk memalingkan perasaan cinta tersebut dan mengembalikan hati kepada-Nya.

Kalau kata Aa Gym mah jika jatuh cinta “bungkus dan serahkan ke Allah” jadi cukup hanya Allah saja yang tahu isi hatimu dan titipkan rasa cintamu pada-Nya. Mohon pula agar kecintaanmu pada makhlukNya, tidak mengalahkan cintamu pada-Nya.

Sekali lagi, mari kita hayati hadits di atas : Barang siapa yang kasmaran lalu menyembunyikannya, menjaga kehormatan dirinya, dan bersabar atasnya, niscaya Allah akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga

Maka hanya ada 3 hal yang perlu dilakukan orang yang jatuh cinta : SEMBUNYIKAN, JAGA DIRI, dan SABAR, maka Allah anugerahkan ampunan dan syurga-Nya. Teman-teman mau surga kan? Mari praktekkan!
Wallahu’alam.


Do'a Sang Menteri


Malam itu ketika sebagian santri telah terlelap aku mencoba mendekati Asri yang baru saja selesai dengan muroja'ahnya. Asri yang usia nya setahun dibawahku adalah seorang mahasiswa di jurusan Biologi di kampusku. Dan dia adalah Menteri Keamanan baru di Republik Daarul Iman (asramaku), dan aku rasa jabatan ini sangat cocok untuknya, karena dia sangat tegas dan memiliki kedisiplinan yang tinggi sehingga bisa menggerakan teman-teman yang lain.

Setiap hari, setiap malam, setiap pagi dialah salah satu santri yang selalu semangat dalam menghafal Alqur’an, suaranya yang meski parau (serak) senantiasa terdengar kencang hingga penjuru asrama seolah tidak peduli jika pun suaranya habis, yang penting tetap menghafal. Dan tangannya tak pernah lepas dari mushaf cokelat nya yang sudah mulai lusuh itu.

Pada saat itu aku memberanikan diri bertanya padanya, “Asri maaf kalau boleh tahu apa sih rahasianya biar bisa semangat terus menghafal alquran dan gak mudah ngantukan kayak kamu?”...

Kemudian dia tersenyum dan menjawab : “saya adalah orang yang termasuk lambat teh dalam menghafal , makanya saya harus semangat dan berusaha keras di atas orang lain, mungkin saya kelihatan begitu rajin karena sekarang lagi libur aja teh, gimana ya teh yang lain mah lagi libur tuh mungkin berfikir untuk istirahat atau misal ketika haid yang lain mah malah santai, tapi kalau saya mah justru memanfaatkan moment libur itu buat nabung hafalan, kapan lagi nanti mah bisa jadi padat banget jadwal kuliahnya” ujarnya padaku.

“dan kenapa saya gak mudah ngantuk mungkin karena memang itu salah satu doa saya setiap hari, saya selalu memohon agar saya tidak ngantuk ketika bersama Al-Quran, bukankah kantuk musuh terbesar para penghafal Quran?”ungkapnya lebih lanjut.

“o ya kalau ada yang umroh juga saya mah suka nitip do’anya biar gak mudah ngantuk teh” tambahnya lagi.


Maka saat itu aku hanya tersenyum dan berucap MasyaAllah...
terkagum dalam hati aku malu akan diriku, dan bertanya pada hati “Ya Allah kapan aku berdo’a seperti itu?.... pantas saja tasmi 5 juz pun bisa kuat dia simak, sementara aku?....”