Sabtu, 20 Februari 2016 |

She is Layyina


Gadis itu bernama Layyina, usianya belum genap 13 tahun. Kami tinggal dalam satu asrama namun berbeda lantai dan berbeda program, dia adalah salahsatu santri tahfidz SMP. Seyogyanya aku sudah mengenal dia sejak dulu namun karena cutiku selama 2 bulan dari pesantren membuatku tak begitu kenal santri-santri cilik pejuang qur’an itu.

Ketika kesholehahannya jadi buah bibir teman kamarku, aku hanya bertanya “siapa itu Layyina? Yang mana ya?” kemudian temanku hanya menjawab : “itu teh gadis yang syahdu”. Maka aku balik bertanya maksudnya syahdu? “Silahkan teteh perhatikan sendiri!”, perintah temanku.

Dan benarlah setelah aku tahu yang mana dan siapa gadis cantik itu ternyata dia memang syahdu, syahdu dengan do’a-do’anya.

Untuk pertama kalinya aku berpapasan dengan dia di kamar mandi dan dia tidak lepas untuk langsung bermunajat selepasnya keluar dari WC, tentu dengan khasnya mengangkat tangan dan mata yang terpejam.

Setelah itu aku semakin senang dan sering memperhatikannya dan ketika ada halaqah pun dialah santri yang paling khusus dalam do’anya. Belum lagi cerita orang-orang yang menambah kekagumanku bahwa dialah gadis yang senantiasa menangis dalam do’anya selepas salat. MasyaAllah aku benar-benar malu belum bisa seperti dia.


Mungkin betapa banyak dan sering kita melupakan pentingnya keseriusan (kesyahduan) dalam berdo’a, dan gadis kecil itu sedikitnya telah membuatku berubah untuk belajar lebih khusu saat bermunajat, terimakasih Layyina.


[Elfatunnisa Faridah for #30DWC]
Rabu, 17 Februari 2016 |

Indahnya Tawakkal



Tawakal adalah mengandalkan Allah dalam segala hal, tentunya dengan tidak melupakan ikhtiar yang maksimal. Setiap ada masalah serahkan hati kita pada Al-Wakil dan tandatangani kontrak perwakilan, lalu katakan, “Cukuplah bagiku Allah, sebaik-baik tempat bersandar.”

Masalah itu adalah karunia bukan musibah, musibah itu terjadi kalau kita salah menyikapi masalah. Jika benar-benar direnungkan sesungguhnya masalah yang kita hadapi tidaklah lebih rumit daripada rumitnya Allah mengurus tubuh kita. Maka pada siapa lagi kita minta tolong kalau bukan pada Allah, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tawakal itu datang dari keyakinan yang mantap bahwa tidak ada yang mencelakakan diri ini, kecuali apa yang Allah tetapkan. Katakan pada Allah “aku menyandarkan pada-Mu, ya Allah... semua urusanku ditangan-Mu, kebaikan di tangan-Mu, aku tidak memiliki satu pilihan pun, wahai Tuhanku, aku tidak berdaya, bodoh, hina dan tak tahu mana yang terbaik maka pilihkanlah aku apa yang kau kehendaki”.

Untuk menjadi ahli tawakal (mutawakkil) mudah sekali yaitu dengan terus menerus berhubungan dengan Allah swt melalui zikir dan do’a. Hampir semua solusi persoalan itu adalah zikir dan do’a. Itu adalah dua senjata orang mukmin, maka jangan sampai dilupakan walau sedetik pun.
Salahsatu ciri orang yang tawakkal adalah tidak adanya rasa kecewa ataupun kesedihan yang dalam ketika apa yang diharapkannya tidak tercapai, karena dia yakin bahwa ketentuan Allah adalah yang terbaik.

Nasihat terkhir, rutinlah mendawamkan do’a “Bismillahi tawakaltu alallahi laa haulaa walaa quwwata illah billahi” setiap keluar dari rumah, maka insyaAllah setiap urusan kita akan dimudahkan dan dibimbing Allah.

(Ini adalah rangkuman atau sedikit ilmu yang saya dapat mengenai tawakkal baik dari kajian yang saya ikuti ataupun buku yang saya baca) Semoga bermanfaat. Keep tawakkal yaa!! ^^


[Elfatunnisa Faridah for #30DWC]


Memasrahkanmu


Untukmu yang mengisi relung hatiku beberapa bulan ini,
Untukmu yang membuat Rabb ku cemburu,
Sudah cukup sampai di sini pengharapanku.

Beberapa hari tiada henti Allah hujani aku dengan kata “tawakal”
Seolah-olah Dia ingin aku memasrahkanmu
Dan sedikitnya mulai kupahami bahwa aku memang harus melepaskanmu
Mengubur segala rasa yang sempat mencuat kepermukaan,
Menghapus semua angan dan harapan kosong yang di bisikan setan,
Menutup semua pintu yang dapat mengingatkanku padamu,
Dan memilih menjaga diri seperti Maryam
Inilah yang terbaik

Untuk waktu ke depan akankah ada sapa dan pertemuan?
Tentu aku tak tahu, dan mengenai jatah umurku pun aku tak tahu
Maka aku hanya ingin menitipkanmu pada-Nya
Semoga Rabb ku senantiasa menjagamu dalam kebaikan
Semoga Dia selalu menjagamu bersama Al-quran



18 Februari 2016
@Asrama Daarul Iman

ketika merindukannya, al-fatihahin aja!



Bismillah, berbicara tentang rindu, rindu yang terkadang datang menyergap tanpa permisi. Mungkin kita pernah sangat rindu pada orang tua ketika sedang di perantauan, rindu pada sahabat tercinta, atau mungkin merindukan si doi (seseorang yang dikagumi), maka ungkapkan dengan al-fatihah. Lo kok al fatihah?... yes, it’s true story.

Dulu saya pernah bercerita kepada sahabat sekaligus guru spiritual saya mengenai rasa suka (kagum) saya pada seseorang (ikhwan), dan nasihat yang diberikan guru hanya satu kalimat “alfatihahin aja teh”.

Kemudian beliau menceritakan tentang masa lalunya. Bahwa beliau juga pernah menyukai seseorang, dan ketika ingat ikhwan (laki-laki) yang di suka tersebut guru saya hanya mengirimkan Alfatihah begitu tuturnya, bahkan berjalan beberapa bulan tiap ingat dia langsung alfatihah, tiap terbayang wajahnya baca alfatihah.

Hingga suatu hari, dengan seijin Allah ikhwan yang beliau suka tiba-tiba mengirim pesan lewat FB-nya kalau beliau juga ternyata ada perasaan yang sama kepada sahabat saya itu. Wah, mungkin itu adalah buah dari alfatihah untuk orang yang tak dikenal, dan ikhwan tersebut pun menyatakan keseriusannya untuk menikah dengan sahabat saya. Namun sampai sekarang mereka belum bisa bersatu karena sang akhwat (sahabat saya) memutuskan untuk menyelesaikan hafal alqurannya terlebih dahulu sebelum menikah.

Dan sesuatu yang luar biasa itu telah saya praktekkan sendiri ketika saya menyukai seorang pengajar di tempat saya les, kala itu saya ingat nasihat sahabat saya bahwa jika terbayang/keingetan orang yang di suka langsung baca alfatihah sambil di ikhlaskan. Jadi maksudnya dalam alfatihah itu kita tidak boleh berharap agar orang yang kita suka balik menyukai kita, tapi benar-benar memasrahkan rasa itu kepada Allah. Dan MasyaAllah kurang dari dua hari semenjak seringnya saya kepikiran orang yang saya suka tersebut Allah langsung memberi jawaban.

Setelah paginya saya alfatihahin eh pas sorenya pengajar saya itu ternyata mengajar sambil membawa anak-anaknya. MasyaAllah... dari sana barulah saya tahu kalau ternyata beliau sudah menikah bahkan sudah punya anak dua.haha.... lucu kan? Tapi anehnya sama Allah dibuat happy aja bukan malah kecewa atau sedih ketika tahu kalau orang yang di suka ternyata sudah punya anak. Dan saya yakin mungkin inilah buah dari alfatihah itu, bahwa hati kita pun dibuat lapang sama Allah.


Selamat mencoba ya teman-teman jangan hanya buat si doi aja tapi alfatihahin juga orangtua, keluarga, guru, dan sahabat-sahabat kalian apalagi kalau kalian sedang merindukan mereka. InsyaAllah dari sana kalian bisa menjadi lebih tenang dan bisa menemukan hikmah lainnya. 



By.Elfatunnisa Faridah for #30DWC.
Selasa, 16 Februari 2016 |

Mentafakuri Waktu


Bismillah, untuk #3DWC yang kedua ini mari kita berbicara mengenai waktu, berhubung ada hal sangat saya sesali hari ini karena belum bisa optimal memanfaatkan waktu yang Allah beri.

Waktu adalah salah satu nikmat Allah swt yang tak ternilai harganya bahkan dengan uang sekalipun, saking berharganya maka tak layak untuk disia-siakan. Bahkan di dalam Alquran pun Allah bersumpah beberapa kali “Demi Waktu” seperti dalam surah Al-Ashr salah satunya.

Jika coba direnungkan, waktu berjalan begitu cepat tanpa bisa ditahan, 30 hari terasa seperti seminggu, sehari seperti sejam. Subhanallah.... Dan Allah pun berkata bahwa “manusia pasti merugi” ketika ia kehilangan waktu begitu saja. Tanpa disadari setiap hari kita pun semakin dekat dengan waktu kematian kita dan hari yang telah berlalu tak kan pernah bisa kembali.

Maka sudah sepatutnya kita terbiasa mentafakuri waktu-waktu kita di awal atau penghujung malam, atau di setiap aktivitas kita. Misalnya kita periksa (tanya hati) sudahkah waktu kita benar-benar di isi dengan kebaikan? Hal apa saja yang dilakukan hari ini? Periksa, banyak manfaat atau sia-sia? Periksa pula adakah dari waktu kita yang bisa jadi bekal untuk akhirat?

Misalnya malam ini saya coba mentafakuri diri sendiri, ternyata banyak hal yang saya lewatkan seharian ini, diantaranya target hafalan, target tilawah yang terbengkalai, buku yang tidak terbaca, juga tugas kuliah yang belum terselesaikan, sementara saya renungkan kembali bahwa hari ini saya “Free” dalam artian tak ada jadwal ke kuliah, tapi mengapa bisa begitu lalai? Maka ditemukanlah, oh hari ini terlalu banyak ngobrol yang tak manfaat, hari ini makannya terlalu lama, hari ini kebablasan tidur siang, dan terlalu banyak tetek bengek hal kecil yang seharusnya tidak dilakukan. Semoga Allah ampuni dosa-dosa saya.

Kalau sudah begini benarlah kata ustad Nouman Ali Khan bahwa terkadang yang mencelakakan kita itu adalah waktu luang. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan dapat mengisi setiap detik kita dengan amal shaleh.aamiin
Senin, 15 Februari 2016 |

LGBT Idaman Para Wanita.

Hari pertama #30DWC mari kita bicara tentang LGBT, tapi ini bukanlah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) yang sedang ramai jadi perbincangan di berbagai media, karena untuk hal itu tentu saya sangat tidak setuju sebagaimana di dalam Alqur’an pun Allah telah mengisahkan dengan sangat jelas bagaimana kesudahan kaum Luth dengan azab-Nya yang keras.

Nah yang akan saya bahas ini adalah mengenai LGBT yang lain, yang Allah suka dan pastinya jadi idaman para wanita juga, apakah itu? ini dia “Lelaki Ganteng Banyak Tilawah”. Wah udah ganteng rajin tilawah juga kurang apa coba, beruntunglah kalau dapat suami seperti ini.

Dan sepertinya untuk saat ini sangat mudah menemukan LGBT, misalnya kita lihat apakah dia tergabung dengan grup ODOJ (One Day One Juz) atau tidak, bahkan ada yang lebih keren lagi kalau ternyata ikutannya SALJUQ (SehAri Lima JUz al-Quran).

Cara mendeteksi LGBT yang kedua adalah lihat status-status di sosmed nya kalau dia masih sering galau ya mungkin belum termasuk LGBT karena orang yang rajin tilawah itu biasanya pembawaanya juga tenang.

Sesuai dengan firman Allah swt : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S ar-Ra’d [13] : 28)

Untuk cara yang ketiga lihat komunitas yang diikuti misalnya kalau tergabung dalam dakwah kampus insyaAllah tilawahnya juga terjaga karena ada tuntutan dari organisasi atau prasyarat keanggotaan.

Apa yang saya paparkan di atas bukanlah sebuah anjuran agar teman-teman (akhwat) jadi keppo sama ikhwan untuk tahu dia termasuk LGBT tidak karena hal itu jelas tidak diperbolehkan kecuali kalau anti (kamu) sedang pada masa ta’aruf maka boleh mencari tahu. Jadi untuk yang lagi ta’aruf silahkan praktekan.hehe

Apa yang saya bahas sebatas harapan dan do’a semoga kelak sahabat-sahabat muslimah bisa mendapatkan suami yang LGBT.aamiin... Eits, tapi jodoh itu kan cerminan diri kita jadi sebelum ngarep yang LGBT hadir kita rajinin dulu tilawahnya saat ini, kalau sama-sama rajin tilawah mungkin nanti makin romantis karena bisa tilawah bareng.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan sebuah hadis yang semoga jadi motivasi teman-teman untuk semakin mencintai Alquran,

Dari Anas r.a ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang dekat dengan Al-Qur’an. (Mereka adalah) keluarga Allah  dan hamba yang istimewa.“ (HR. Ibnu Majah)

So, kalau mau jadi yang special disisi Allah sebelum nanti special disisi doi mari kita perbanyak tilawah! :)
Kamis, 11 Februari 2016 |

Dengan ujian dan guncangan jiwa
Aku mulai asyik menerjemahkan bahasa cinta-NYA
Mungkin aku terlampau lemah dan bodoh untuk sekedar melangkah
Dalam gontai masih tertatih di lorong yang sama
Kapankah akan bergerak, berpindah dan melaju kencang?
Bahkan jika boleh aku ingin terbang saja
Ah lagi-lagi butuh perjuangan ekstra luar biasa
Dan Tuhan tahu aku mampu
Hanya saja hijrahku belum semaksimal yang diharap-Nya
Semoga, mulai detik ini Tuhan mampukan aku untuk berlari
Meraih semua asa dan cita
Agar kelak berguna bagi keluarga, bangsa dan agama